Cara Mengatasi Anak Yang Suka Berbohong




Cara Mengatasi Anak Yang Suka Berbohong - Berbohong adalah mengucapkan sesuatu yang tidak sebenarnya, ini tentu kita semua sudah paham. Namun ketika anak suka bohong, apakah benar anak-anak menyadari apa yang dia lakukan atau ucapkan? Belum tentu!

Cara Mengatasi Anak Yang Suka Berbohong
Anak Suka Bohong - Brilio.net

Pada usia tertentu, misalnya antara usia 2-3 tahun banyak anak yang belum memahami apa yang dia ucapkan. Kosakata mereka masih sangat terbatas, sehingga sering kali mereka mengucapkan sesuatu yang sebenarnya mereka tidak pahami.

Ada pula anak-anak yang senang berimajinasi, sehingga mereka sering menceritakan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka alami namun mereka pikirkan. Misalnya ada anak yang bercerita bahwa dia pernah bertemu monster dan bertarung hingga mengalahkannya. Ini adalah fiksi atau khayalan si anak yang dia ceritakan kepada keluarga atau teman-temannya agar dia tampak hebat dan mendapatkan perhatian.

Pada usia tertentu anak-anak belum bisa membedakan mana khayalan dan mana kenyataan. Maka apa yang mereka lihat di TV atau dalam buku cerita dianggapnya sebagai suatu kenyataan yang ada. Untuk itu para orang tua perlu sekali mendampingi dan menerangkan putra-putrinya ketika mereka menonton film atau membaca buku cerita. Hal itu penting untuk membimbing imajinasi mereka.

Tidak tepat kalau kita terburu-buru memberi gelar anak kita pembohong sementara saat itu sebenarnya mereka sedang berimajinasi, lebih gampangnya mungkin jika kita membagi kebohongan anak menjadi 3 tingkatan atau level yaitu kebohongan tingkat ringan, sedang dan berat.

1. Kebohongan Level Ringan

Adalah kebohongan di tingkat balita, yang lebih disebabkan karena mereka tidak tahu atau merupakan hasil dari imajinasi mereka. Untuk kebohongan tingkat ini para orang tua masih bisa mentolerirnya, dalam arti memahaminya namun tetap harus mengarahkannya dengan menjelaskan apa yang sebenarnya mereka lakukan.

2. Kebohongan Level Sedang

Adalah kebohongan yang dilakukan anak dalam rangka menyelamatkan diri mereka sendiri atau mengangkat harga dirinya. Misalnya seorang anak mengaku juara kelas atau nilai rapornya bagus semua padahal tidak, tujuannya agar mereka tidak dimarahi orang tua dan mendapat pujian.

Meskipun mungkin hal ini tidak merugikan pihak lain, namun kebohongan pada level ini harus tetap ditegur dan diperingatkan sebab bisa merugikan diri mereka sendiri.

3. Kebohongan Level Berat

Adalah kebohongan yang dilakukan oleh anak yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain, misalnya ada seorang anak yang mengatakan pada orang tuanya bahwa ia sudah membayarkan uang SPP yang dititipkan kepadanya. Namun selang beberapa bulan kemudian, orang tuanya mendapat panggilan dari sekolah bahwa anaknya telah menunggak pembayaran SPP untuk beberapa bulan.

Nah hal seperti ini jelas berbahaya dan tidak bisa didiamkan, sebab termasuk kategori perbuatan menipu atau korupsi yang merugikan orang lain, termasuk dirinya sendiri. Jika dibiarkan anak akan menganggap hal itu sebagai perbuatan biasa saja atau pelanggaran ringan saja.

Maka orang tua harus bersikap tegas terhadap hal itu, minimal anak harus diberitahu apa akibat perbuatannya itu yang merugikan dirinya dan orang lain, seperti ia tidak bisa ikut ujian karena belum bayar SPP atau mereka tidak bisa pergi berlibur di akhir semester Karena uangnya habis buat bayar SPP. Tujuannya biar anak sadar dan tidak mengulangi perbuatannya.

Boleh juga diberi hukuman yang sifatnya mendidik, asal tidak berlebihan yang justru menimbulkan trauma atau dendam. Misalnya hukuman yang sifatnya mengurangi kenikmatan yang selama ini ia nikmati, seperti tidak boleh bermain game selama seminggu atau pengurangan uang jajannya setiap hari. Dengan hukuman itu diharapkan anak akan mengerti konsekuensi yang harus diterimanya jika ia berbohong.

Cara Mengatasi Anak Yang Suka Berbohong


Level Ringan

Untuk anak-anak balita yang level kebohongannya masih tingkat rendah, dalam artian mereka sebenarnya sedang berimajinasi, maka hal ini lebih dikarenakan pikiran mereka memang belum berjalan sempurna, mereka belum bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan , terlebih jika mereka sering menonton atau mendengar kisah-kisah khayalan baik lewat film, komik, atau media lainnya, tentu saja daya khayal mereka semakin melambung tinggi.

Untuk itu sebagai solusi, orang tua jangan terburu-buru mencegah, melarang atau bahkan marah-marah ketika anak-anak berkhayal, karena itu memang dunia mereka, biarkan imajinasi mereka berkembang. Namun perlahan berilah mereka pengertian, ajak mereka berdialog, terangkanlah apa yang mereka lihat dalam film misalnya bukanlah sebenarnya, melainkan “bohong-bohongan” semata, sehingga anak tidak mengikut begitu saja.

Lebih bijak lagi jika para orang tua disamping menemani anak ketika nonton TV atau membaca komik, juga menyediakan tontonan atau bacaan yang benar-benar mendidik, bukan sekadar tontonan yang berisi khayalan atau kebohongan semata, namun lebih kepada tontonan sekaligus tuntunan. Misalnya film-film edukasi islami atau kisah ilmu pengetahuan yang dikemas secara menarik. Hal seperti itu tentu lebih bermanfaat.

Level Menengah

Sedangkan untuk kebohongan level menengah, dimana anak berbohong untuk menyelamatkan dirinya, maka orang tua perlu terlebih dahulu harus intropeksi apakah dia terlalu ketat dalam menentukan standar prestasi untuk anak, sehingga anak cenderung takut untuk gagal, sebenarnya bukan takut ketika menerima kegagalan, namun lebih kepada takut akan hukuman atau kemarahan orang tuanya saat dia gagal.

Pada level ini orang tua harus mengajarkan anak nilai kejujuran dan tanggung jawab, bukan sekadar sanksi atau hukuman. Katakan pada anak “Ayah/bunda lebih bangga lho dengan kejujuranmu, bagi kami itu adalah prestasi tersendiri apapun hasilnya”.

Level Berat

Sementara untuk kebohongan level terakhir yang cukup berat, dimana kebohongan itu juga merugikan pihak lain, maka orang tua harus bersikap bijaksana namun tetap tegas. Pertama, panggil si anak kemudian tanya alasan kebohongannya, biarkan ia bercerita kenapa ia berbohong. Boleh jadi ia disuruh temannya, terpengaruh tayangan TV atau memang keinginannya sendiri Karena kebutuhan yang tidak terpenuhi misalnya.

Setelah ia berani dengan jujur bercerita, maka pujilah atas keberaniannya itu dan jangan malah dicaci-maki, kemudian katakana padanya “Ayah/bunda tahu bahwa kamu sebenarnya tidak suka bohong, namun kamu lalai kali ini, untuk itu jangan pernah kamu ulangi lagi, sebab hal itu sangat merugikan, terutama untuk dirimu sendiri, kamu tidak akan dipercaya orang lagi”.

Terangkan kepadanya akibat-akibat buruk bila orang berbohong, mulai dari dijauhi teman, tidak dipercaya orang hingga dibenci Allah. Buat ia merasa bersalah dan kapok tanpa harus ditakut-takuti dengan hukuman. Kesadaran dari dalam diri si anak jauh lebih penting dari pada berbagai sanksi atau hukuman yang mengancam.

Perhatian

Terakhir, orang tua juga harus tahu bahwa terkadang anak suka bohong karena meniru orang tuanya, meskipun hal itu Nampak sederhana dan remah. Contohnya suatu ketika mungkin orang tua pernah malas untuk menerima tamu yang datang, lalu orang tua menyuruh anaknya untuk mengatakan bahwa ia tidak ada dirumah.

Hal seperti itu tanpa disadari telah mendidik anak bahwa ternyata berbohong itu boleh-boleh saja dan anakpun akan menirunya. Untuk itu para orang tua harus juga menjaga diri untuk tidak berbohong, bila tidak ingin anak-anaknya menjadi pembohong.

Syaikh Abdul Hamid Jasim Al-Bilali dalam bukunya “Seni Mendidik Anak” menyindir kelakuan orang tua tersebut, menurut beliau, “Seorang anak tentu tidak mudah menerima anjuran kebaikan dari orang tuanya jika ternyata perbuatan orang tua mereka sendiri bertolak belakang dari apa yang diperintahkan. Anak disuruh berkata jujur, tetapi mereka sendiri sering berdusta dan jika berjanji tidak ditepati”.

Demikian tadi adalah pembahasan mengenai level kebohongan pada anak beserta cara mengatasi anak yang suka berbohong. Semoga bisa bermanfaat untuk para pembaca semuanya, jangan lupa dishare!

Terima kasih.

Tag : Parenting
0 Komentar untuk "Cara Mengatasi Anak Yang Suka Berbohong"

Silahkan sampaikan komentar anda! Terima kasih :)

Back To Top