Wajib Diterapkan Orang Tua, Agar Anak Sukses,Terbukti!




Taman Kanak-kanak

Sekolah awalnya merupakan sebuah kegiatan yang menyenangkan dan paling ditunggu-tunggu oleh anak yang belum sekolah. Lihat saja anak berusia 4 tahun sudah merengek kepada orang tuanya minta dibelikan tas, buku, pensil sama seperti yang dimilikinya oleh kakaknya.

Sekolah menurut mereka tempat dimana mereka bisa bermain, belajar dengan guru yang menyenangkan dan berkumpul bersama teman sebaya.

Momen yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Setelah berusia 5 tahun, mulailah mereka dimasukkan ke taman kanak-kanak. Dan memang benar sekolah itu menyenangkan, belajar sambil bermain, bercanda ria dengan teman dan diajar oleh guru yang baik dan ceria.

Tidak ada sedikitpun rasa malas terlihat di wajah mereka. Semangat bangun di pagi hari untuk bersiap berangkat ke sekolah dan bercerita kepada orang tua setiba dirumah kegiatan-kegiatan apa yang mereka lakukan di sekolah. Ada-ada saja kepandaian baru yang mereka dapat, bisa bernyanyi, berhitung, menghafal beberapa doa, dan menggambar sebuah objek.

Namun setelah masuk ke sekolah dasar keceriaan anak sudah mulai berkurang. Sekolah yang dulunya menyenangkan berubah menjadi sekolah yang penuh dengan keseriusan, duduk tatap muka dengan guru,mencatat pelajaran, membuat banyak PR, dan tidak ada lagi bermain yang menyenangkan disekolah.

Anak sudah mulai susah bangun pagi, sering sakit, lebih suka libur daripada sekolah, dan tidak ada lagi cerita yang menyenangkan terdengar dari mulut mereka.

Derita mereka ternyata berlanjut sampai ke sekolah menengah pertama. Anak sering bolos, bertengkar dengan teman disekolah, pergaulan negatif, dan nilai ulangan yang terus mengalami penurunan.

Parahnya lagi orang tua dirumah menganggap anak mereka bermasalah, pemalas dan bodoh, karena tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar dengan baik.

Anak Malas Belajar

Orang tua yang berbahagia, apakah benar anak kita yang bermasalah, atau justru sekolah tidak memberikan pendidikan yang diharapkan oleh anak. Apakah kita pernak mencek seperti apa pendidikan yang diberikan disekolah, bagaimana cara guru menyampaikan pelajaran, dan pergaulan seperti apa yang didapat anak kita di sekolah.

Muhammad Alwi seorang motivator, konsultan, dan trainer pendidikan dalam bukunya “Anak Cerdas Bahagia dengan Pendidikan Positif” menyebutkan sekolah positif adalah sekolah yang memberikan pendidikan tidak hanya mengupayakan anak untuk menjadi sukses semata, akan tetapi juga bahagia.

Dalam artian pendidikan positif mengupayakan agar anak cerdas, sehat dan bahagia.

Pertanyaannya apakah anak kita bahagia dengan sekolahnya ? Apakah sekolah bisa menjadikan mereka menjadi anak yang cerdas?

Pintar dengan cerdas merupakan hal yang berbeda. Anak pintar adalah anak yang dapat menguasai seluruh pelajaran yang diberikan oleh guru. Pintar selalu diawali dengan proses belajar. Orang pintar butuh proses mempelajari terlebih dahulu dengan jangka waktu tertentu, sampai mengetahui sepenuhnya akan hal yang dipelajarinya. Pengetahuan yang diketahui itulah yang membuat dia dinobatkan sebagai orang pintar. Dengan demikian, semua orang berpotensi menjadi pintar, asalkan dibentuk sedemikian rupa.

Cerdas melakukan sesuatu tanpa aturan, terkadang menambah ide-ide kreatif di dalamnya dan lebih banyak improvisasi. Cerdas itu bawaan sejak lahir bukan terbentuk seperti orang pintar. Kecerdasan akan menjadi luar biasa jika dengan dipupuk dengan cara yang tepat dan dengan orang yang tepat.

Howard Gardner, dalam bukunya Frame of Mind : The Theory of Multiple Intelligences, mengatakan bahwa manusia memiliki sembilan kecerdasan, yaitu verbal linguistik, logika-matematis, musik-irama, visual spesial, interpersonal, intrapersonal, fisik-kinestetik, naturalis, dan eksistensialis.

Begitupun juga halnya dengan anak, mereka memiliki kombinasi kecerdasan yang berbeda-beda, sehingga bakat dan minat mereka pun berbeda-beda. Bahkan cara masing-masing mereka mengakses dan memproses informasi pun akan berbeda.

Prinsip sederhananya jika manusia mengetahui bakatnya, lalu menempatkan diri di sekolah yang tepat, besar kemungkinan dari mereka untuk menjadi seorang ahli dalam bidang bakatnya sehinga kesuksesan pun mudah diraih.

Selain itu, karena kesuksesan yang mereka raih diperoleh dari sesuatu yang diminati, mereka juga akan mencapai kepuasan batin dan pastinya kebahagiaan.

Nah pembahasan kita selanjutnya, bagaimana memilih pendidikan yang tepat buat anak dan pendidikan yang mengasah kecerdasaan anak sekaligus membuat mereka bahagia dan sukses tentunya.

Namun sebelum itu kita lihat dulu apakah sekolah mereka yang sekarang sudah menerapkan pendidikan positif. Silahkan disimak sambil menikmati secangkir teh hangat.

Bagaimana sih menyurvei tingkat menyenangkan anak kita disekolah ?

Diambil dari buku "Anak cerdas dengan pendidikan positif" karya Muhammad Alwi, amatilah tingkah laku anak dan sekolahnya dangan melihat pertanyaan dan pernyataan di bawah ini.

  • Apakah anak mempunyai hobi, keterampilan, minat, atau kemampuan yang membangkitkan semangat di rumah ? Jika ya apakah dia mendapatkan kesempatan untuk menggunakan bakat atau kemampuan itu di sekolah?
  • Apakah anak sepulang sekolah begitu bersemangat menceritakan hal penting yang dipelajarinya hari itu di sekolah?
  • Apakah anak suka berada di sekolah seusai pelajaran, berbicara dengan seorang guru, mengembangkan sebuah proyek, mempraktikkan suatu keterampilan?
  • Apakah ketika berbicara dengan gurunya, kelompok kata yang paling sering dia gunakan adalah bakat, prestasi, minat, dan kemampuan lainnya?
  • Apakah anak selalu bersemangat dan tidak pernah mengeluh sakit perut, sakit kepala, dan gelisah pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah?
  • Apakah anak berbicara di meja sarapan mengenai semua hal menyenangkan yang akan dilakukannya hari itu di sekolah?
  • Apakah anak mempunyai proyek yang harus dikerjakan, yang benar-benar membutuhkan pemikiran, kreativitas dan inovasi?

Jika kita menjawab mayoritas pertanyaan tersebut dengan "tidak", berarti ada yang tidak beres dengan sekolah itu. Sebagai orang tua kita harus melakukan usaha-usaha perbaikan sebelum merenggut kemampuan alami anak-anak kita.

Sebagai saran ada tiga hal yang harus kita perhatikan untuk mengetahui apakah sekolah tempat kita menitipkan anak kita telah memberikan pendidikan yang terbaik.

1. Perhatikan ruang kelasnya

  • Apakah kelas itu sangat hidup dan menggairahkan, atau justru terlihat membosankan atau lesu.
  • Apakah kelas itu penuh dengan berbagai materi belajar yang menarik (peralatan seni, materi ilmu pengetahuan, gambar-gambar atau kata-kata yang menginspirasi), atau hanya kelas kosong yang berisi buku pelajaran berdebu, serta poster kuno di dinding.
  • Apakah anak-anak membangun, menggambar, membaca, mengoleksi, menulis, berinteraksi, melakukan percobaan dan menciptakan? Atau hanya mengerjakan lembar latihan dan mendengarkan ceramah guru.
  • Apakah tersedia tempat untuk kelompok diskusi, gerakan fisik dan eksperimen kreatif? Atau hanya ada deretan bangku dan beberapa meja.

2. Perhatikan tenaga pengajarnya

  • Apakah guru mengajak diskusi, curah pendapat dan berdialog? Atau sebaliknya hanya text book dan selalu diarahkan oleh guru.
  • Apakah guru berkeliling dalam kelas dan membantu murid satu persatu? Atau hanya menghabiskan sebagian besar waktunya didepan kelas dengan berbicara kepada semua anak.
  • Ketika berbicara dengannya tentang anak kita, apakah kita lebih banyak mendengar mengenai pencapaian anak kita atau malah sering mendengar mengenai masalahnya?
  • Apakah guru tersebut mempunyai banyak metode untuk mengajar di kelas? Atau selalu berpatokan pada buku latihan, LKS atau buku palajaran.

3. Perhatikan perilaku anak-anak kita sendiri

  • Bagaimana ketika anak berbicara mengenai sekolah dan kelasnya? Apakah penuh semangat, riang, antusias, atau justru merasakan keputusasaan, kepasrahan, dan tidak ingin membicarakannya?
  • Apakah dia tampak belajar demi pengetahuan atau belajar untuk mendapat hadiah, nilai, penghargaan, atau pujian?
  • Apakah dia mendapat kesempatan untuk mengungkapkan berbagai keunikannya , kelebihan, bakat dan kemampuannya ? Atau apakah ada banyak penekanan terhadap kesalahan, ketidakmampuan, dan kekurangannya?
  • Apakah dia diperlakukan sebagai seorang manusia dengan cara belajarnya sendiri, atau dia diharapkan untuk belajar dengan cara yang sama seperti murid-murid lain?

Jawaban dari seluruh pertanyaan diatas akan membantu kita sebagai orang tua apakah anak kita telah mendapatkan pendidikan yang selayaknya? Jika tidak, kita bisa mencari alternatif lain, pindah kelas atau bahkan pindah sekolah sekalipun.

Sekolah seharusnya menjadi sekolah yang inklusi yaitu sekolah yang bisa memberikan layanan khusus kepada setiap anak. Karena anak pada dasarnya unik (personal). Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, dan setiap kecerdasan itu perlu penanganan yang khusus pula. Penyamarataan setiap anak inilah menjadi kesalahan terbesar dalam pendidikan kita.

Seekor ikan akan menganggap dirinya bodoh seumur hidupnya jika ia harus bisa memanjat pohon. Begitu juga dengan anak kita, mereka memiliki bakat dan keahlian masing-masing. Jangan selalu melihat kelemahan dalam dirinya tapi fokuslah menggali dan mangasah kelebihan yang dimilikinya.

Kebanyakan orang sukses sudah pasti tidak menerapkan sistem pendidikan yang seperti itu. Valentino Rossi sang peraih gelar doctor dalam dunia balap motor dalam sebuah wawancara mengatakan "yang ingin saya lakukan di dunia ini hanyalah balap motor, tidak ada yang lain".

Coba kita lihat contoh lain orang-orang yang sudah mengembangkan bakat dan minat sejak kecil, tumbuh menjadi orang luar biasa yang diperhitungkan di dunia ini. Orang-orang tersebut antara lain :

  • Bill Gates orang terkaya nomor satu dunia mulai fokus ke komputer sejak usia 13 tahun.Usia 19 tahun mendirikan Microsoft Corporation bersama Berry Gordy.
  • Cristiano Ronaldo salah satu pesebakbola terbaik dunia mulai mengasah bakat sepak bolanya pada usia 10 tahun. Begitu juga dengan pesepakbola lain di eropa sana.
  • Tiger Woods seorang atlit golf yang dibayar paling tinggi di muka bumi ini setelah meraih US$ 90,5 juta dari kemenangan dan iklan sponsor pada tahun 2010, sudah mulai diperkenalkan oleh kakeknya dengan golf pada usia 2 tahun dan meninggalkan kuliahnya demi mengejar bakatnya dalam olahraga golf.
  • Oprah Winfrey, pembawa acara terkemuka, mulai menghasilkan dari bakat bicaranya pada usia 12 tahun.
  • Ahmad Dani pemusik Indonesia terkenal mulai belajar musik pada usia 13 tahun.
  • Indra Lesmana sejak kecil hanya sekolah musik, tak pernah sekolah umum.

Seluruh contoh diatas mengajarkan kepada kita, bagaimana dukungan orang tua sejak kecil bisa mempengaruhi kesuksesan anak. Jika anak berbakat dan senang dengan apa yang dikerjakannya tidak ada lagi rasa malas, bahkan bolos dari sekolah.

Pernah kah kita lihat meskipun hujan badai anak tetap bermain sepak bola, meskipun panas terik tetap latihan basket, tari, musik atau sebagainya meskipun beberapa hari lagi mau ujian akhir ? Semua itu mereka lakukan hanya karena senang bukan ?

Para orang tua yang berbahagia langkah-langkah untuk mencari sekolah terbaik untuk anak, kita lakukan hanyalah demi kenyaman dan kebahagiaan anak dalam belajar. Ketika bidang yang mereka pelajari sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya, mereka berminat dan berbakat, dan ditambah lagi dengan perasaan nyaman dan senang dalam proses belajarnya, kesuksesan akan semakin mudah diraih.

RUMUSNYA :

Minat/Bakat + Kecerdasan + Pendidikan Positif + Perasaan Senang = Sukses Bahagia

Semoga dengan artikel ini orang tua tersadar, tidak ada lagi yang namanya anak bodoh dan anak malas. Coba perhatikan kembali anak kita, letakkan lah dia pada jalur yang semestinya.

Marilah kita bersama-sama membentuk Indonesia yang kuat sumber daya manusianya. Jika anda setuju dengan artikel ini komunikasikan kepada keluarga, kerabat, dan teman. Dengan begitu berati kita telah ikut memajukan bangsa ini dimulai dari anak-anak kita dan keluarga kita dirumah.

Tag : Parenting
0 Komentar untuk "Wajib Diterapkan Orang Tua, Agar Anak Sukses,Terbukti!"

Silahkan sampaikan komentar anda! Terima kasih :)

Back To Top